Berpikir Jernih Untuk Bangsa

June 2nd, 2008

Berpikir Jernih Untuk Bangsa

Pojok DFM, Senin, 2 Juni 2008

 

Perjalanan bangsa yang dibangun dan diperjuangkan para leluhur berjalan tidak semulus seperti harapan banyak para founding father. Tapi inilah kehidupan berbangsa yang sesungguhnya. Setiap bangsa, setiap negara memiliki jalan hidup sendiri-sendiri dalam menemukan titik pencerahan, titik kemajuan dan kesejahteraan. Pun demikian dengan Indonesia. Perjalanan kehidupannya tidak bisa disamakan dengan Singapura, Malaysia, Brunei, maupun Vietnam. Masing-masing negara memiliki proses dan upaya serta kendala berbeda.

 

Seperti yang terjadi saat ini, belum sempat bernapas lega setelah mencoba secara perlahan bangkit dari beban krisis moneter yang terjadi 10 tahun silam, kini menghimpit lagi persoalan ekonomi sebagai dampak kian melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) dunia. Akibatnya mendesak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008. Kondisi seperti inilah menyulitkan posisi Presiden, siapa pun orangnya. Bisa saja jika hanya mendasarkan pada kepentingan dan keuntungan pribadi demi menyelematkan kariernya, Presiden mengambil keputusan yang poplulis. Tetapi karena Presiden lebih mempertimbangkan pada aspek yang lebih luas, yakni bangsa, maka menaikan harga BBM inilah keputusan yang diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata 28%.

 

Situasi pahit ini tampaknya tak bisa dihindari dan memberikan pilihan yang sulit bagi pemerintah di tengah impitan ekonomi dan belenggu kemiskinan yang masih menggelayuti sekitar 17,75% warga bangsa ini. Bahkan, diperkirakan jumlah orang miskin akan semakin membludak akibat kenaikan harga BBM tersebut. Di sisi lain, jika BBM tak dinaikkan, APBN akan semakin tergerus untuk menalangi subsidi BBM yang semakin membengkak.

 

Tidak heran bila keputusan bijak Presiden ini, menimbulkan gejolak kehidupan masyarakat, terutamanya mereka yang tidak setuju. Sebagai negara yang tengah belajar berdemokrasi, sehingga wajar bila gejolak pro dan kontra itu selalu ada. Termasuk seperti yang dilakukan para mahasiswa selaku calon-calon pemimpin bangsa masa depan. Mahasiswa, atas nama rakyat, menjadi golongan yang paling bergolak melakukan aksi demonstrasi turun ke jalan. Aksi mereka tak jarang menciptakan problem baru di jalur lain. Tapi itulah proses pembelajaran yang mereka pilih. Namun sangat arif tentunya, jika sekali lagi tidak mengedepankan emosi, tetapi lebih utamakan hitung-hitungan panjang demi nasib bangsa.

 

Barangkali kita semua mesti mau meluangkan waktunya untuk merenung sejenak dan melepas segala emosi dan ego pribadi. Mengapa Indonesia harus mengambil keputusan paling sulit? Barangkali perlu kita menilik kembali bahwa Indonesia merupakan satu dari sekian banyak negara yang hidup di dunia ini. Apa pun yang terjadi atas dunia, tentu akan berimbas pada setiap negara, termasuk Indonesia.

 

Ini memberikan indikasi bahwa kasus yang melanda negeri kita ini merupakan bencana global yang berawal dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Sebagai masyarakat yang demokratis, sebelum mendukung atau menolak, sebaiknya kita harus lihat dulu apa sebenarnya pokok permasalahan keputusan pemerintah dengan masyarakat?

 

Dan kita pun pantas bertanya, kemana para anggota dean yang selama ini dikenal sebagai wakil dari pada rakyat? Apakah ada inisiatif konkret lain yang ditawarkan wakil-wakil rakyat? Karena hingga saat ini masih belum terdengar. Mestikah kesenyapan itu yang ada? Padahal rakyat sangat percaya, mereka itu tidak miskin ide inovatif? Tapi yang jelas, kita prihatin adanya.

 

Di tengah keputusan yang cukup memprihatinkan ini, sudah sepantasnya kita memberi dukungan kepada pemerintah. Kita tahu bahwa pemerintah sudah berusaha berbuat yang terbaik untuk rakyatnya. Tidak benar kalau pemerintah mau menyusahkan rakyatnya, tidak ada satu pun pemerintah mulai dari presiden pertama sampai sekarang yang ingin menzalimi rakyatnya.

 

Sekarang bukan zamannya untuk saling caci-mencaci, tetapi bagaimana agar negara kita ini menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Semua demi terbaik untuk bangsa, untuk rakyat, untuk Negara. Indonesia.

 

 

 

Perjalanan bangsa yang dibangun dan diperjuangkan para leluhur berjalan tidak semulus seperti harapan banyak para founding father. Tapi inilah kehidupan berbangsa yang sesungguhnya. Setiap bangsa, setiap negara memiliki jalan hidup sendiri-sendiri dalam menemukan titik pencerahan, titik kemajuan dan kesejahteraan. Pun demikian dengan Indonesia. Perjalanan kehidupannya tidak bisa disamakan dengan Singapura, Malaysia, Brunei, maupun Vietnam. Masing-masing negara memiliki proses dan upaya serta kendala berbeda.

 

Seperti yang terjadi saat ini, belum sempat bernapas lega setelah mencoba secara perlahan bangkit dari beban krisis moneter yang terjadi 10 tahun silam, kini menghimpit lagi persoalan ekonomi sebagai dampak kian melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) dunia. Akibatnya mendesak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008. Kondisi seperti inilah menyulitkan posisi Presiden, siapa pun orangnya. Bisa saja jika hanya mendasarkan pada kepentingan dan keuntungan pribadi demi menyelematkan kariernya, Presiden mengambil keputusan yang poplulis. Tetapi karena Presiden lebih mempertimbangkan pada aspek yang lebih luas, yakni bangsa, maka menaikan harga BBM inilah keputusan yang diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata 28%.

 

Situasi pahit ini tampaknya tak bisa dihindari dan memberikan pilihan yang sulit bagi pemerintah di tengah impitan ekonomi dan belenggu kemiskinan yang masih menggelayuti sekitar 17,75% warga bangsa ini. Bahkan, diperkirakan jumlah orang miskin akan semakin membludak akibat kenaikan harga BBM tersebut. Di sisi lain, jika BBM tak dinaikkan, APBN akan semakin tergerus untuk menalangi subsidi BBM yang semakin membengkak.

 

Tidak heran bila keputusan bijak Presiden ini, menimbulkan gejolak kehidupan masyarakat, terutamanya mereka yang tidak setuju. Sebagai negara yang tengah belajar berdemokrasi, sehingga wajar bila gejolak pro dan kontra itu selalu ada. Termasuk seperti yang dilakukan para mahasiswa selaku calon-calon pemimpin bangsa masa depan. Mahasiswa, atas nama rakyat, menjadi golongan yang paling bergolak melakukan aksi demonstrasi turun ke jalan. Aksi mereka tak jarang menciptakan problem baru di jalur lain. Tapi itulah proses pembelajaran yang mereka pilih. Namun sangat arif tentunya, jika sekali lagi tidak mengedepankan emosi, tetapi lebih utamakan hitung-hitungan panjang demi nasib bangsa.

 

Barangkali kita semua mesti mau meluangkan waktunya untuk merenung sejenak dan melepas segala emosi dan ego pribadi. Mengapa Indonesia harus mengambil keputusan paling sulit? Barangkali perlu kita menilik kembali bahwa Indonesia merupakan satu dari sekian banyak negara yang hidup di dunia ini. Apa pun yang terjadi atas dunia, tentu akan berimbas pada setiap negara, termasuk Indonesia.

 

Ini memberikan indikasi bahwa kasus yang melanda negeri kita ini merupakan bencana global yang berawal dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Sebagai masyarakat yang demokratis, sebelum mendukung atau menolak, sebaiknya kita harus lihat dulu apa sebenarnya pokok permasalahan keputusan pemerintah dengan masyarakat?

 

Dan kita pun pantas bertanya, kemana para anggota dean yang selama ini dikenal sebagai wakil dari pada rakyat? Apakah ada inisiatif konkret lain yang ditawarkan wakil-wakil rakyat? Karena hingga saat ini masih belum terdengar. Mestikah kesenyapan itu yang ada? Padahal rakyat sangat percaya, mereka itu tidak miskin ide inovatif? Tapi yang jelas, kita prihatin adanya.

 

Di tengah keputusan yang cukup memprihatinkan ini, sudah sepantasnya kita memberi dukungan kepada pemerintah. Kita tahu bahwa pemerintah sudah berusaha berbuat yang terbaik untuk rakyatnya. Tidak benar kalau pemerintah mau menyusahkan rakyatnya, tidak ada satu pun pemerintah mulai dari presiden pertama sampai sekarang yang ingin menzalimi rakyatnya.

 

Sekarang bukan zamannya untuk saling caci-mencaci, tetapi bagaimana agar negara kita ini menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Semua demi terbaik untuk bangsa, untuk rakyat, untuk Negara. Indonesia.

May 2nd, 2008

Menyatukan Semangat Kebersamaan dan Kegotongroyongan Demi Tingkatkan Kualitas Pendidikan Bangsa

 

 

Belajar Mengambil Makna Kenaikan Isa Al Masih

May 1st, 2008

Belajar Mengambil Makna Kenaikan Isa Al Masih

Pojok DFM, Kamis, 1 Mei 2008

Hari ini umat Kritiani atau pemeluk Agama Kristen memperingati Hari Kenaikan Isa Almasih. Memperingati kenaikan Isa Almasih berarti mengingatkan manusia pada kematian. Kematian jasad tubuh-Nya mendahului kenaikan spiritualitas-Nya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Yesus memandang kematian sebagai guru kehidupan abadi setiap manusia. Ia memberi metafora paling indah seputar kematian secara dialogis dengan para murid-Nya.

Kematian fisik, secara klinis adalah saat tubuh sudah tidak bernapas, sehingga tidak mampu lagi melakukan aktivitas. Sementara kematian spiritual, yaitu ketika manusia tak mengenal jati-dirinya sebagai roh yang berakibat tidak percaya adanya kehidupan roh di balik kehidupan duniawi. Kematian spiritual itu harus dihidupkan kembali agar manusia dapat mengalami kenaikan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan adanya roh itu tak bisa dianggap remeh, sebab dampak-buruknya bisa fatal.

Hal tersebut menjadi dimaknai penting, apalagi saat ini cukup banyak manusia melakukan kenekatan untuk berani mengakhiri hidupnya sendiri. Ini sama artinya, jika mereka yang tak pernah melakukan kontemplasi untuk meraih pengertian dan kesadaran tentang jati-dirinya sebagai roh. Tampaknya orang-orang semacam itu berpikir bahwa dengan matinya tubuh jasmani maka masalah hidupnya akan hilang begitu saja. Habis perkara. Itulah kematian spiritual yang makin banyak terjadi pada kehidupan modern. Hal itu sebenarnya lebih mencelakakan manusia, ketimbang kematian jasmani.

Barangkali dengan memaknai kenaikan Isa Almasih, implikasinya adalah bahwa manusia wajib mengimani eksistensi dan kehidupan roh agar kita masing-masing kelak bisa kembali kepada Yesus dan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Manusia tak boleh menjadi budak kekuasaan, harta dan wanita yang sifatnya sementara ini, sehingga manusia mampu berhikmat pada ajaran-Nya.

Barangsiapa tidak dilahirkan dalam roh, maka tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Artinya perlu reformasi kesadaran tentang siapakah diri manusia ini, sehingga tidak lagi terbiasa menganggap “aku” sebagai tubuh, dan berganti menyadari sebagai roh yang penuh cinta kasih terhadap sesama manusia. Cinta kasih sifatnya wajib tidak bersyarat dan memeluk semua manusia tanpa memandang agama, suku, bangsa, dan kewarganegaraannya. Namun, hal ini hanya bisa dilaksanakan bagi mereka yang telah mengalami kenaikan spiritual. Tanpa hadirnya cinta kasih yang tulus kepada Allah dan manusia, maka tidak mungkin kita mengalami kenaikan spiritual.

Pelajaran ketulusan cinta kasih mestinya bisa membangkitkan kehidupan baru dan semangat bagi Indonesia yang belakangan ini dalam posisi tidak stabil, baik ekonomi, moral, sikap kebersamaan, dan berbagai hal lainnya. Kenaikan spiritualitas ”Kenaikan Isa Al Masih ini, bukankah mengandung makna agar manusia selalu memiliki pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karenanya, mulai hari ini perlu belajar cinta kasih-Nya agar memiliki pengharapan akan Indonesia yang lebih baik di masa depan. Selamat memperingati Hari Kenaikan Isa Al Masih bagi yang menunaikannya.

Belajar Memanfaatkan Air Tanah Jakarta

April 29th, 2008

Belajar Memanfaatkan Air Tanah Jakarta

 

Pojok DFM, Selasa, 29 April 2008

 

Air merupakan salah satu kebutuhan utama mahluk hidup, termasuk manusia, selain oksigen. Sehingga ketergantungan terhadap kebutuhan air tidak bisa terpisahkan. Air juga mempunyai nilai strategis dan nilai bisnis yang tinggi. Tingginya kebutuhan air bersih dari waktu ke waktu terus meningkat sesuai perkembangan tumbuhkembangnya pihak-pihak yang membutuhkan. Termasuk penduduk Jakarta, sebagai salah satunya.

 

Tingginya kebutuhan air di Jakarta tidak bisa dipisahkan dengan padatnya jumlah penduduk yang ada. Penduduk Jakarta yang berjumlah sekitar 11 juta pada siang hari dan 8 juta pada malam hari membutuhkan pasokan air bersih yang sangat banyak. Sementara kandungan air di bumi Jakarta tidak sepadan dengan kebutuhan yang diminta. Meski sudah diupayakan dengan berbagai fasilitas seperti air pam dari PDAM, tetapi tidak semua warga Jakarta mampu membayar restrubusinya. Karena tidak semua warga Jakarta berstatus sebagai warga mampu. Masih cukup banyak warga Jakarta berkategori sebagai warga miskin secara ekonomi. Mereka inilah antara yang memenuhi kebutuhan air bersihnya dari air tanah dengan cara menyedot air tanah, baik dengan menggunkan pompa manual, pompa listrik atau jet pump.

     

Namun yang perlu diketahui, aksi penyedotan yang dilakukan bukan saja oleh masyarakat dari kalangan tidak mampu, tapi banyak pula warga mampu, pengusaha serta dunia industri, dunia usaha, gedung-gedung bertingkat pun yang melakukannya. Bahkan pola penyedotan air tanah terbilang dengan skala jauh lebih besar dibanding yang dilakukan warga miskin.

 

Memang, awalnya aksi penyedotan air tanah hanya berfokus pada sebatas pemenuhan kebutuhan semata, tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkannya. Dari pemenuhan kebutuhan air tanah yang mulanya terukur seiring perkembangan penyedotan air tanah berubah menjadi kelewat batas. Pasalnya, tidak lagi melihat kondisi alam dan kondisi tanah yang ada. Tak salah bila aksi penyedotan air tanah secara besar-besaran yang tak terkontrol menjadi salah satu pemicu utama penurunan permukaan tanah Jakarta, selain beban bangunan yang begitu marak.

 

Kepala Dinas Pertambangan (Disbang) Provinsi DKI Jakarta Peni Susanti mengakui, dugaan adanya ribuan sumur bor ilegal di gedung-gedung tinggi di Jalan Thamrin-Sudirman dan sekitarnya belum termonitor. Ini merupakan salah satu indikasi dari maraknya sumur bor liar di Ibu Kota. Berdasarkan hasil penertiban tahun 2002, di mana ditemukan sekitar 450 sumur bor ilegal, dan tahun 2005-2006 ditemukan 1.700 sumur bor ilegal. Indikasi ini merupakan bukti akan kebutuhan air tanah yang meningkat drastis.

 

Mencermati hal itu tentu perlu langkah bijak untuk memanaj air tanah Jakarta, atau membiarkan aksi penyedotan air tanah itu secara besar-besaran. Pihak pemerintah daerah (Pemda) Provinsi DKI Jakarta sebagai pihak yang memiliki kewenangan sudah semestinya melakukan aksi pembenahan, bukan pembiaran. Selain melakukan monitoring, upaya pengatasan bagi penghematan kandungan air tanah, Pemda juga perlu melakukan penindakan secara tegas sesuai prosedur dan hukum yang ada dan yang sudah ditetapkan.   

 

Langkah lain, pihak Pemda semestiny juga harus memiliki alat “geo radar” sebagai alat pemantau memperketat pengawasan sumur dalam (artesis). Dengan “geo radar” dapat mendeteksi letak sumur artesis itu sehingga memudahkan pengawasan.  Apalagi kondisi memang sudah membutuhkan. Apalagi, pengguna sumur bor legal di DKI hanya 3.800 pelanggan, tentu masih sangat jauh dari pemakai yang sebenarnya.

 

Sekali lagi, Pemprov harus berani bersikap tegas. Bukankah, menggunakan air dalam tanah dari sumur bor ilegal sudah merupakan kejahatan lingkungan dan itu ada sanksinya. Pemda harus menerapkan Undang-Undang lingkungan, tidak sekadar sanksi yang diatur perda. Sumur bor ilegal yang tidak memiliki ijin pun harus disegel. Itu yang harus disikapi dan dikendalikan oleh Pemprov DKI.

 

Jika tidak berbuat apa-apa, proses penurunan tanah yang telah terjadi antara 20 cm sampai 200 cm di tempat-tempat tertentu itu, bisa jadi akan menenggelamkan tanah Jakarta. Karena itu, setiap pembangunan di Jakarta harus didahului dengan penelitian dan kajian struktur tanah untuk disesuaikan konstruksinya. Meski sejatinya, penyebab faktor alam penurunan sendiri lapisan tanah yang lebih dalam akibat endapan muda di atasnya serta aktivitas tektonik. Terhadap dua penyebab faktor alam ini, kita tak bisa berbuat apa-apa karena kemauan alam. Tapi setidaknya kita  bisa belajar memanfaatkan air tanah Jakarta secara proporsional dan memiliki ijin resmi. Selain kita harus bertanggung jawab atas kelesatarian kandungan air tanah di bumi Jakarta. 

Hari Autis Sedunia yang Terlupakan

April 5th, 2008

Hari Autis Sedunia yang Terlupakan

Pojok DFM, Jumat, 4 April 2008

Penyandang autis, bukan beban bagi setiap keluarga yang memiliki anggota keluarganya autis. Autis merupakan salah satu anugerah sebagai ujian bagi setiap insan manusia. Jumlah penyandang Autis semakin meningkat pesat dalam dekade terakhir ini. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan penyandang yang ditemukan terkena Autis akan semakin besar.

 

Autis merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, interaksi sosial dan gangguan persepsi sensoris. Bahkan beberapa gangguan Autis seringkali melibatkan gangguan neuroanatomis dan neurofungsional tubuh. Bila gangguan tersebut melibatkan gangguan neurofungsional tubuh salah satu yang terganggu adalah kemampuan koordinasi motorik oral seperti mengunyah dan menelan. Dalam keadaan demikian proses makan pada penyandang akan terganggu sehingga akan mengalami kesulitan makan.

 

Namun, tahukah kita kalau tanggal 2 April baru lalu merupakan Hari Autis Sedunia, mungkin lebih banyak tidak tahunya. Memang Autis baru ramai dibicarakan Publio dalam waktu belakangan ini.

 

Mencermati momen peringatan hari Autisme Sedunia, tentu sangat bijak kita semua jira dengan gencar mengampanyekan pentingnya kepedulian khusus bagi anak penyandang autis. Pun demikian kita juga mengimbau pemerintah dan kalangan swasta agar berpartisipasi dalam membantu penanganan terhadap anak-anak autis, terutama di daerah. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dengan penyediaan sarana pendidikan yang tepat bagi anak-anak autis itu agar dapat mandiri.

 

Kepedulian dan kesigapan penanganan anak autis harus dilakukan secara dini, tetapi pemerintah pun diharapkan memberi perhatian lebih kepada para penyandang autis yang memerlukan terapi dan sekolah khusus.

 

Kepedulian kita adalah utama bagi mereka. Karenanya, anak yang menyandang autis harus ditangani secara dini dan diberi perhatian seperti layaknya anak biasa. Karena autisme bukanlah cacat mental atau sakit jiwa, melainkan gangguan perkembangan otak pada anak-anak yang  menyebabkan komunikasinya terhambat.

 

Kita, dan juga semua keluarga yang mempunyai anak Autis sangat merindukan senyum dan keceriaan mereka dalam setiap respon yang disertai ekspresi bahasa ceria seperti anak-anak lainnya. Kepedulian kita merupakan harapan. Karena bagaimana pun, mereka mutiara-mutiara bangsa. Mereka para bunga hati kita. Mereka adalah anak-anak kita. Anak-anak Sang pemilik kehidupan.