Penguatan Energi Raky
Penguatan Energi Rakyat
Pojok DFM, Selasa, 24 Juni 2008
Krisis energi yang terjadi belakangan ini sudah menjadi wacana publik yang ramai, seiring terbatasnya pasokan energi listrik dibanding kebutuhan serta ketersediaan bahan bakar fosil yang mulai berkurang dan ketidakberdayaan APBBN menyikapi harga BBM tinggi di pasar dunia.
Imbauan dan kebijakan penghematan energi patut didukung. Mseki demikian, kebijakan tersebut tidak memadai mengingat kecenderungan pertambahan permintaan akan energi dalam jangka panjang.
Barangkali, energi terbarukan brada pada momentum yang tepat dan mendesak diterapkan. Indonesia memiliki beragam sumber energi, termasuk di antaranya energi yang terbarukan dan ramah lingkungan. Namun, saat ini pmanfaatannya sangat minim. Energi terbarukan yang melimpah tersebut belum dimanfaatkan maksimal sebagai energi pembangkit listrik bagi perusahaan yang berwenang mengurusi listrik di negeri ini. Pun demikian bagi sumber energi bagi industri, atau pun kendaraan.
Saat ini konsumsi BBM sangat tinggi, sehingga Indonesia kini menjadi negara pengimpor minyak. Maka sangat arif jika dikembangkan dan dikomersialisasikan dengan dukungan kebijakan dan kelembagaan yang baik, energi terbarukan yang jauh lbih murah, ramah lingkungan dan mandiri dapat jadi solusi di masa depan.
Namun, sayangnya dalam blue print (cetak biru) pengelolaan energi nasional, energi dan terbarukan mi hanya diproyeksikan sebesar 2 persen. Mestinya, sumber energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan dan mandiri harus didorong sebagai jawaban atas krisis energi di masa datang.
Memang, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonsia Nomor 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mngembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM), yang diikuti Instruksi Presiden Nomor 1/2006 tentang Penyediaan Pemanfaatn Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
Semua tak tinggal diam, semua didorong untuk kreatif. Bahkan sejatinya, penelitian energi alternatif non bahan bakar fosil telah dilakukan jauh sebelum kelangkaan BBM mencuat. Walaupun upaya tersebut lebih banyak dilakukan kalangan akademisi. Para akademisi kita melakukan hal itu terkait erat dengan kecenderungan pembangunan Indonesia yang selama 50 tahun selalu mengandalkan BBM.
Ada dua hal penting yang bisa menopang sukses tidaknya program konversi energi rakyat. Yakni, pentingya komitmen pemerintah. Karena melalui komitmen tersbut pemerintah memiliki kemampuan dan kewenangan untuk menggerakan dan memobilisasi masyarakat guna melakukan penanaman berbagai jenis komoditas pertanian yang menjadi bahan dasar etanol.
Komitmen pemerintah menjadi penting, utamanya terkait dengan penyediaan lahan prtanian bagi uapaya untuk mendorong hasil dan produktivitas pertanian itu. Sehingga, komitmen pemerintah tetap menjadi landasan penting bagi pengembangan energi terbarukan. Apalagi mengingat Indonesia sebagai negara agraris, maka pengembangan energi alternatif menjadi sesuatu yang sangat memungkinkan.
Inilah potensi besar sesungguhnya yang dimiliki negeri ini. Alam Indonesia diciptakan Tuhan dengan penuh kekayaan dan kesuburannya. Demikian pula dengan sumber daya manusia yang berlimpah dan potensial. Jadi tak ada yang tak mungkin dilakukan untuk mencari terobosan energi terbarukan. Asalkan ada kemauan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun pihak akademisi. Karenanya program penguatan energi rakyat sangat mungkin dilakukan. Yang penting kita harus semangat, memiliki komitmen kebersamaan yang kuat dan kemauan politik tknologi pmerintah yang didukung lembaga legislatif, undang-undang, serta komunitas yang berbasis pengetahuan yang kuat.
Jika komitmen itu dapat diwujudkan bersama, bisa jadi kita tak perlu kuatir dan cemas dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang kadang bergerak naik tak terduga. Karenanya sebagai wujud pro rakyat, mulailah sekarang kita bergerak melaksanakan pembenahan energi alternatif melalui program penguatan energi rakyat.