Archive for February, 2008

Belajar Bercermin Jiwa Sosial

Monday, February 4th, 2008

Belajar Bercermin Jiwa Sosial

 

Pojok DFMSenin, Pebruari 2008

Manusia hidup dilahirkan dalam latar belakang berbeda. Latar belakang kehidupan setiap manusia pun seringkali termunculkan dalam praktek perjalan kehidupan sang manusia itu. Latar belakang seringkali pula sangat bijak mengajari agar dirinya mampu bercermin. Jika ia lahir dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh rasa lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan. Pun demikian, bila seseorang yang gemar laku prihatin dan kerap berselimutkan kesederhanan, sosok yang rajin melatih kasih sayang jiwa dan nurani niscaya ia paling efektif untuk melatih cinta.

 

Kerajinan merawat keserdahaan dan menguatkan talikasih kepada sesama nampaknya kita mesti bercermin dari seorang HM Soeharto almarhum. Dalam perjalanannya memimpin bangsa, telah banyak yang dilakukan khususnya terhadap kaum dhuafa. Walaupun negara berwajib memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara, seperti bunyi Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945.

 

Ia dengan cermat mencari upaya jalan keluar. Untuk berbagai dan mempraktekan jiwa sosial dan kepeduliannya atas sesama, Pak Harto pada tanggal 8 Agustus 1975 mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais). Melalui yayasan ini, Pak Harto sebagai anak bangsa ingin   turut serta meningkatkan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata, membantu dan membina anak bangsa Indonesia lainnya yang hidupnya tidak mampu, seperti anak yatim-piatu, cacat jasmaniah dan rokhaniah, orang tua jompo, gelandangan dan semacamnya. Sehingga mereka ini menjadi warga negara yang berguna, bagi masyarakat dan negara.


Hampir 33 tahun, lewat yayasan yang bermisi sosial ini telah memberikan bantuan kepada ribuan panti asuhan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik muslim maupun non muslim. Secara rutin setiap bulannya mereka memperoleh bantuan atau santunan. Puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu anak yatim piatu telah tersentuh kasih sayang dan kepedulian sosialnya.

 

Sudah banyak pula dari anak-anak yatim piatu tersebut mampu merampungkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Mereka banyak yang sudah meraih gelar sarjana (S1) malah tidak sedikit saat ini mereka sedang menempuh program S2.

 

Itu semua berkat dukungan atau bantuan sumbangsih dari kesadaran seorang anak bangsa yang menjunjung tinggi niat berbagai kepada sesama anak bangsa lainnya yang memang pantas untuk dibantunya.

 

Bahkan, lewat Yayasan Dharmais itu pula diberikan sejumlah mesin jahit dan pelatihan kepada para anak yatim yang tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Mereka dididik keterampilan perbengkelan dan penyablonan. Tidak sedikit mereka yang sudah memperoleh pendidikan keterampilan tersebut, mempraktikkan keahliannya di bidang perbaikan sepeda motor dan menyablon pakaian sebagai lahan pekerjaannya.

 

Pun demikian melalui Yayasan Dharmais, tidak saja banyak memberi manfaatnya terhadap nasib kaum dhuafa, tapi juga memberi pula bantuan operasi katarak dan bibir sumbing.


Mencermati itu semua, selama berpuluh-puluh tahun Pak harto sebagai salah satu anak bangsa telah menanam kebajikan dan ketulusannya guna menyuburkan lahan kebaikkanya kepada banyak umat. Pak Harto sebagai seorang manusia, terlebih sebagai muslim yang soleh telah banyak berbuat untuk kesejahteraan rakyatnya. Tidak saja melalui Yayasan Dharmais, tetapi ada sejumlah yayasan yang bergerak di bidang sosial yang didirikan oleh beliau yang tujuannya membantu meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya, seperti Yayasan Supersemar memberi beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi, Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila memberikan pembangunan masjid yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang saat ini tidak kurang dari 960 masjid yang telah selesai dibangun. Yayasan Damandiri yang memberikan dukungan dana kepada para pengusaha ekonomi lemah dan ada beberapa yayasan lain yang tujuannya mendorong kepada mereka yang keberadaan kehidupannya cukup memprihatinkan.


Memang Pak Harto bisa jadi tidak ingin dirinya dijadikan pahlawan, tapi sangat pantas jika di mata rakyat, khususnya di mata para anak yatim Pak Harto adalah pahlawan yang telah berhasil mengangkat derajat kaum dhuafa terutama para anak yatim yang dengan perhatian beliau itu banyak kaum miskin telah berhasil mengubah nasib hidupnya.

Sungguh indah kita, jika mau belajar pada jalan kebaikan yang telah dibangun oleh Pak Harto. Setidaknya, mulailah melakukan hal yang paling kecil di rumah kita, sebelum ke tetangga kita. Berbagi kasih, berbagi kepedulian, bukankah salah satu jalan indah  bagi kita membangun jembatan kebajikan di dunia menuju ke alam keabadian kelak.  Semoga.

Belajar Komitmen Pendidikan dari Pak Harto

Friday, February 1st, 2008

Belajar Komitmen Pendidikan dari Pak Harto

 

Pojok DFM, Jumat, 1 Pebruari 2008

 

Tepat tanggal 2 Mei 1984 bersamaan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, sekaligus memperingati pula kelahiran Ki Hajar Dewantoro, seorang pemikir, pencipta dan penggerak pendidikan yang meletakkan dasar-dasar pertama pendidikan nasional negeri ini, Presiden Soeharto pada waktu itu mencangkan karya besar Gerakan Wajib Belajar.

 

Meskipun gerakan penting dan strategis yang lahir dilahirkan Pak Harto saat itu, baru dicanangkan setelah hampir 30 tahun merdeka. Tetapi bukan berati pada waktu sebelumnya tidak melakukan pembangunan pendidikan. Pemerintah dibawah kepemipinannya pembangunan pendidikan tidak terbaikan. Karena selalu menjadi salah satu fokus utama dari rencana pembangunan per lima tahunnya.

 

Mengapa Pak Harto saat itu baru mencangkan program Wajib Belajar itu pada tahapan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang ke - IV? Sebagai seorang Presiden, Pak Harto harus menyiapkan diri untuk dapat memulainya gerakan besar tersebut sebaik-baiknya. Karena, pendidikan memerlukan biaya yang sangat besar. Perekonomian nasional dan keuangan negara harus mampu memikul biaya pendidikan yang besar itu.

 

Dengan gerakan itu, Pak Harto meneguhkan diri seluruh anak-anak yang berusia 7 sampai 12 tahun memperoleh kesempatan yang sama dan adil untuk menikmati pendidikan dasar. Gerakan ini merata di tanah air, mulai dari mereka yang tinggal di kota-kota besar, di kota-kota kecil, di desa-desa sampai di lembah-lembah dan pegunungan yang terpencil sekali pun. Bahkan pada tahun 1986, Pak Harto menetapkan, wajib belajar itu berlaku bagi anak-anak mulai 6 tahun, bukan lagi 7 tahun.

 

Gerakan Wajib Belajar ini tidak lain merupakan usaha Pak Harto di bidang peningkatan kecerdasan kehidupan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Gerakan ini menjadi selaras manakala jauh hari sebelum dicanangkan, sudah terlebih dulu dilakukan pembangunan gedung-gedung sekolah dasar secara besar-besaran di seluruh tanah air. Tentu kita masih ingat dengan nama SD Inpres yang kesohor itu.

 

Lalu bagiamana masih adakah gerakan wajib belajar yang berpihak kepada rakyat kecil, bagi keluarga masyarakat terpencil? Memang ada, namanya gerakan Wajib Belajar 9 Tahun. Meski gerakan Wajib Belajar 9 Tahun ini  lebih luas dalam arti keluasan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tapi belum  Wajib Belajar 12 tahun.

 

Di tengah situasi perjalanan bangsa yang kian berkembang, jika tidak mau disebut berubah ini, pemerintah saat ini terus berupaya mewujudkan keberpihakannya pada pembangunan bidang pendidikan, selain kesehatan dan ekonomi kerakyatan.

 

Untuk tahun 2008 ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mendapat anggaran sekitar Rp 50 triliun. Sebanyak 50 persen dari anggaran tersebut tersedot untuk penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Anggaran untuk penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun tersebut, Rp 11,7 triliun di antaranya tersedot untuk bantuan operasional sekolah. Sisa anggaran lainnya dialokasikan untuk pendidikan menengah dan tinggi.

 

Mencermati perjalanan Gerakan Wajib Belajar sejak rentang waktu dicangkannya Gerakan Wajib Belajar Sekolah Dasar pada 1984 silam hingga tahun 2008 ini yang masih pada sesi Wajib Belajar 9 Tahun atau jenjang sekolah menengah pertama, tentu sangat tidak efektif, atau jika mau jujur sangat lamban perkembangannya. Padahal begitu besar nominal yang sudah dialokasikannya. Lantas apa jadinya, jika mengurus pendidikan dengan dukungan dana besar saja lamban, apakah wajar bila pendidikan masyarakat negeri ini harus tertinggal jauh dari negeri tetangga yang dulu belajar pendidikan dari kita?      

 

Bukan untuk membandingkan, dan bukan juga untuk menonjolkan, tapi tak ada salahnya kita berani belajar dari apa yang sudah dilakukan Pak Harto dalam menguatkan komitmennya membangun dunia pendidikan Indonesia. Sebagai Presiden, ia memahami benar kewajibannya mencerdaskan bangsa. Bahkan pada tataran yang lebih luas, lebih dalam dari sekadar pendidikan di sekolah-sekolah. Karena itu, pendidikan di luar sekolah seperti pendidikan bagi orang dewasa, pendidikan kesejahteraan keluarga bagi kaum perempuan. Pak Harto lakukan semua itu demi peningkatan kecerdasan bangsa, demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

 

Secara konkret dan sangat jelas jika seorang Soeharto selalu menegaskan, sistem pendidikan dan hasil pendidikan haruslah berisi dan menyiapkan kemampuan bagi anak didik  bangsa ini agar bisa hidup dalam masyarakat yang kompleks, sehingga menjadi anggota yang berguna bagi masyarakat dan dapat turut aktif dalam kegiatan pembangunan. Menjadi sumber daya yang menjadi subyek pembangunan, bukan obyek pembangunan semata.